Kamis, 01 November 2012

pengertian objektivitas, independensi dan laporan audit


 Pengertian Audit
Pada dasarnya audit merupakan kegiatan yang membandingkan kondisi aktual yang ada dengan kriteria yang telah dibuat. Kondisi yang dimaksud disini merupakan keadaan yang seharusnya dapat digunakan oleh auditor sebagai pedoman untuk mengevaluasi informasi dalam lingkup akuntansi dan keuangan.
Pengertian Audit menurut Mulyadi (2002;9) adalah sebagai berikut:
“Proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang ditetapkan, serta menyampaikan hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan”.
Sedangkan pengertian Audit menurut Henry Simamora (2002;4) adalah sebagai berikut:
“Suatu proses sistematik pencarian dan pengevaluasian secara obyektif bukti mengenai asersi tentang peristiwa dan tindakan ekonomik untuk meningkatkan kadar kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang ditetapkan, dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan”.
Dari definisi diatas dapat diketahui unsur-unsur penting dalam audit yaitu audit merupakan suatu proses sistematik yang bersifat logis, terstruktur, dan terorganisir. Proses sistematis yang dilakukan tersebut merupakan proses untuk menghimpun bukti-bukti yang mendasari asersi-asersi yang dibuat oleh individu maupun entitas yang kemudian dievaluasi oleh auditor.
Pengertian Audit Internal
            Audit internal hanya terdapat dalam perusahaan yang relatif besar. Dalam perusahaan ini, pimpinan perusahaan membentuk banyak departemen, bagian, seksi, atau suatu organisasi yang lain dan mendelegasikan sebagian wewenangnya kepada kepala–kepala unit organisasi tersebut.
            Pengertian Audit Internal menurut Hiro Tugiman (2006;11) adalah sebagai berikut:
“Audit Internal adalah suatu fungsi penilaian yang independen yang ada dalam suatu organisasi dengan tujuan untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan organisasi yang dilaksanakan”.
Dari definisi diatas audit internal merupakan suatu kontrol organisasi yang mengukur dan mengevaluasi organisasi. Informasi yang dihasilkan, ditujukan untuk manajemen organisasi sendiri.
Setelah mengetahui apa yang dimaksud dengan audit internal, terdapat istilah yang disebut auditor internal yang harus kita ketahui untuk dapat membedakan antara audit internal dengan auditor internal.
         Pengertian dari auditor internal menurut Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2009:14) adalah sebagai berikut:
Pegawai dari suatu organisasi/perusahaan yang bekerja di organisasi tersebut untuk melakukan audit bagi kepentingan manajemen perusahaan yang bersangkutan, dengan tujuan untuk membantu manajemen organisasi untuk mengetahui kepatuhan para pelaksana operasional organisasi terhadap kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan”.
Auditor sering disebut auditor internal dan merupakan karyawan organisasi tersebut. Auditor internal bertanggung jawab terhadap pengendalian intern perusahaan demi tercapainya efisiensi, efektifitas dan ekonomis serta ketaatan pada kebijakan yang diambil oleh perusahaan.
Fungsi Audit Internal
Fungsi audit internal dijelaskan oleh Hery (2010:93) menyatakan bahwa:
“Auditor internal memiliki fungsi untuk memeriksa dan menilai baik buruknya pengendalian atas akuntansi keuangan dan operasi lainnya, Memeriksa sampai sejauh mana hubungan para pelaksana terhadap kebiijakan, rencana dan prosedur yang telah ditetapkan, Memeriksa sampai sejauh mana aktiva perusahaan dipertanggungjawabkan dan dijaga dari berbagai macam bentuk kerugian, Memeriksa kecermatan pembukuan dan data lainnya yang dihasilkan oleh perusahaan,Menilai prestasi kerja para pejabat/ pelaksana dalam menyelesaikan tanggung jawab yang telah ditugaskan”.
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa fungsi audit internal merupakan kegiatan penilaian yang bebas, yang terdapat dalam organisasi, yang dilakukan dengan cara memeriksa akuntansi, keuangan, dan kegiatan lain. Untuk memberikan jasa bagi manajemen dalam melaksanakan tanggung jawab mereka. Dengan cara menganalisis, penilaian, rekomendasi, dan komentar-komentar penting terhadap kegiatan manajemen, auditor internal menyediakan jasa tersebut. Audit internal berhubungan dengan semua kegiatan perusahaan, sehingga tidak hanya terbatas pada audit catatan-catatan akuntansi. 

Definisi 0bjektivitas
Pengertian objektivitas menurut Lawrence B. Swyer, mortimer A. Dittenhofer dan James H. Scheiner yang diterjemahkan oleh Desi Anhariani (2006:103) adalah :
“Objektivitas adalah suatu hal yang langka dan hendaknya tidak dikompromikan. Seorang audior hendaknya tidak pernah menempatkan diri atau ditempatkan dalam posisi di mana objektivitas mereka dapat dipertanyakan. Kode etik dan standar auditor internal telah menetapkan aturan-aturan tertentu yang harus diikuti agar terhindar dari kemungkinan pandangan akan kurangnya objektivitas atau munculnya bias. Pelanggaran atas aturan-aturan ini akan menyebabkan munculnya kritikan dan pertanyaan mengenai kurangnya objektivitas yang dimiliki oleh audit internal.”
Selain itu pengertian objektivitas menurut Siti Kurnia Rahayu dann Ely Suhayati (2009:52) adalah  :
“Harus bebas dari masalah benturan kepentingan (conflict of interest) dan tidak boleh  membiarkan faktor salah saji material (material misstatement) yang dketahuinya  atau mengalihkan pertimbangannya kepada pihak lain. Dengan memprtahankan integritas auditor akan bertindak jujur,, dan tegas, dengan mempertahankan objektivitasnya, auditor akan bertindak adil, tidak memihak dalam melaksanakan pekerjaannya tanppa dipengaruhi tekanan atau permintaan pihak tertentu atau kepentingan pribadi”.
Laporan hasil yang memiliki kriteria objektivitas menurut Hiro Tugiman (2006:191) adalah :
“Suatu laporan pemeriksaan yang objektif membicarakan pokok persoalan dalam pemeriksaan, bukan perincian prosedural atau hal-hal lain yang diperlukan dalam proses pemeriksaan. Objektivitas juga harus dapat memberikan uraian mengenai dunia auditee dengan tidak menunjuk pada pribadi tertentu dan tidak menyinggung perasaan orang lain.”
Untuk memperoleh sikap seorang auditor yang objektif menurut Lawrence B. Swyer, mortimer A. Dittenhofer dan James H. Scheiner yang diterjemahkan oleh Desi Anhariani (2006:11) adalah :
“Objektivitas dipastikan melalui struktur organisasi, pelatihan, dan penugasan personel dengan pertimbangan yang seksama.”
Objektivitas auditor internal menurut Standar Profesi Audit Internal yang dikutip oleh Konsersium Organisasi Profesional Audit Internal (2004:8) adalah sebagai:
“Audior internal harus memiliki sikap mental yang obyektif, tidak memihak dan menghindari kemungkinan timbulnya pertenangan kepentingn (conflict of interest)”.
Dalam standar1120 digariskan bahwa auditor internal harus memiliki sikap yang tidak memihak, tidak bias, dan menghindari konflik kepentingan. (auditorinternal.com:2010). Lebih lanjut IIA memberikan panduan sebagai berikut:
  1. Dengan objektivitas individual dimaksudkan auditor internal melakukan penugasan dengan keyakinan yang jujur dan tidak membuat kompromi dalam hal kualitas yang signifikan. Auditor internal tidak boleh ditempatkan dalam situasi-situasi yang dapat mengganggu kemampuan mereka dalam membuat penilaian secara objektif profesional.
  2. Objektivitas Individual melibatkan kepala eksekutif audit (CAE) untuk memberikan penugasan staf sedemikian rupa sehingga mencegah konflik kepentingan dan bias, baik yang potensial maupuna ktual. CAE juga perlu secara berkala mendapatkan informasi dari staf audit internal mengenai potensi konflik kepentingan dan bias mereka, serta bila memungkinkan, memberlakukan rotasi tugas.
  3. Review terhadap hasil pekerjaan audit internal sebelum komunikasi/laporan penugasan diterbitkan, akan membantu memberikan keyakinan yang memadai bahwa pekerjaan auditor internal yang bersangkutan telah dilakukan secara objektif.
  4. Objektivitas auditor internal tidak terpengaruh secara negatif ketika auditor merekomendasikan standar pengendalian untuk sistem tertentu atau melakukan review terhadap prosedur tertentu sebelum dilaksanakan. Objektivitas auditor dianggap terganggu jika auditor membuat desain, menerapkan, mendrafkan prosedur, atau mengoperasikan sistem tersebut.
  5. Pelaksanaan tugas sesekali di luar audit oleh auditor internal, bila dilakukan pengungkapan penuh dalam pelaporan tugas itu, tidak serta merta mengganggu objektivitas. Namun, hal tersebut membutuhkan pertimbangan cermat, baik oleh manajemen maupun auditor internal untuk menghindari dampak negatif terhadap objektivitas auditor internal.
Dalam standar1100 digariskan bahwa aktivitas auditor internal harus bersikap independensi, dan auditor internal harus bersikap objektif dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Objektivitas dalam standar 1100 (auditorinternal.com:2010) adalah :
“Sikap mental yang tidak bias yang memungkinkan auditor internal untuk melakukan penugasan dengan sedemikian rupa sehingga mereka meyakini hasil pekerjaan mereka dan meyakini tidak ada kompromi. Objektivitas mensyaratkan bahwa auditor internal tidak menundukkan penilaian mereka dalam masalah-masalah audit terhadap orang lain. Ancaman terhadap objektivitas harus dikelola pada masing-masing tingkat auditor, penugasan, fungsional, dan tingkat organisasi.
Dilihat dari pengertian dari para ahli mengenai objektivitas, penulis mengambil kesimpulan bahwa audit internal diharuskan bersikap objektif dalam melaksanakan proses dan pelaporan audit pada perusahaannya. Objektivitas juga merupakan kebebasan sikap mental yang seharusnya dipertahankan oleh audit internal dalam melakukan audit, dan auditor internal tidak boleh membiarkan pertimbangan auditnya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar tempat auditor tesebut bekerja atau bahkan tidak boleh membiarkan pertiimbangan auditnyya dipengaruhi oleh orang lain walaupun orang lain itu mempunyai kekerabatan yang sangat erat oleh auditor internal tersebut. Sehingga objektivitas mengharuskan auditor internal melakukan  audit dengan objektif sehingga kejujuran atas hasil audit mereka dapat diyakini dan bukan merupakan hasil kompromi yang dapat menimbbulkan konflik di dalam perusahaan itu  sendiri.
Definisi Independensi
Menurut Herry (2010:73) yang dimaksud dengan independensi seorang auditor adalah sebagai berikut :
“Auditor internal harus mandiri dan terpisah dari berbagai kegiatan yang diperiksa. Auditor internal dianggap mandiri apabila dapat melaksanakan pekerjaannya secara bebas dan objektif. Kemandirian auditor internal sangat penting terutama dalam memberikan penilaian yang tidak memihak (netral)”.
Pengertian Independensi menurut siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2009:51) adalah sebagai berikut :
“Independensi dalam audit berarti cara pandang yang tidak memihak di dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit. Sikap mental independen tersebut harus meliputi Independece in fact dan independence in appearance”.
            Independence in fact menurut siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2009:51) adalah sebagai berikut :
“Independen dalam kenyataan akan ada apabila pada kenyataan auditor mampu mempertahankan sikap yang tidak memihak sepanjang pelakksanaan auditnya. Artinya sebagai suatu kejujuran yang tidak memihak dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya, hal ini berarti bahwa dalam mempertimbangkan fakta-fakta yang dipakai sebagai dasar pemberiaan pendapat, auditor harus objektif dan tidak berprasangka”.
            Independence in appearance menurut siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2009:51) adalah sebagai berikut :
“Independen dalam penampilan adalah hasil interpretasi pihak lain mengenai independensi ini. Auditor akan dianggap tidak independen apabila auditor tersebut memiliki hubungan tertentu (misalnya hubungan keluarga) dengan kliennya yang dapat menimbulkan kecurigaan bahwa auditor tersebut akan memihak kliennya atau tidak independen”.
Sedangkan pengertian Independensi menurut Sukrisno Agoes dan I Cenik Ardana (2009:146) adalah :
“Independensi mencerminkan sikap tidak memihak serta tidak dibawah pengaruh atau tekanan pihak tertentu dalam mengambil keputusan dan tindakan.”
Sehingga penulis menarik kesimpulan dari pengertian diatas tentang Independensi, yaitu seorang auditor pada saat pelaporan hasil pemeriksaan audit kepada managemen senior dan dewan atau pada setiap periode pelaporan audit haruslah memperhatikan tanggung jawabnya sebagai seorang auditor, yaitu dapat melaksanakan pekerjaannya secara bebas dan objektif. Selain itu sifat utama seorang auditor adalah tidak memihak (netral) untuk menghasilkan laporan audit yang independen.
Mempertahankan perilaku independen bagi auditor dalam memenuhi tanggung jawab mereka adalah sangat penting, namun yang lebih penting lagi adalah bahwa pemakai laporan keuangan memiliki kepercayaan atas independensi itu sendiri. Independensi memiliki penilaian apabila auditor mengamati hasil audit,sehingga klien dapat menilai apakah auditor tersebut bersifat independensi atau justru sebaliknya terhadap kualitas audit yang diperiksanya.
Laporan Audit
Tahap akhir dari aktivitas audit internal adalah membuat laporan audit yang diperoleh dari pelaksanaan penugasannya. Laporan tersebut merupakan alat tugas dan wewenang bagiannya.
Laporan audit menurut Lawrence B. Sawyer yang diterjemahkan oleh Desi Anhariani (2006:11) adalah sebagai berikut:
            “Laporan audit termasuk ringkasan eksekutif, dirancang untuk mengkomunikasikan perbaikan-perbaikan yang disarankan dan rencana-rencana manajemen operasional untuk melaksanakan perbaikan tersebut”.
Sedangkan laporan auditor dalam Standar Profesi Akuntan Publik (2009:73) yang ditulis oleh Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati adalah sebagai berikut:
Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan atau memuat suatu asersi, bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendaapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan maka alsannya harus dikemukakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan audit harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan jika ada dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor”.
Laporan audit merupakan satu-satunya dari produk unit audit internal yang secara teratur dilaporkan kepada manajemen senior, dewan direksi, dewan komisaris, dan komite audit. Karena merupakan satu-satunya produk audit yang sampai kepada mereka, pembaca cenderung mengasosiasikan kualitas laporan dengan kinerja dan kemampuan profesional unit audit internal.
Sebagai profesi yang sudah mapan, auditor internal memiliki Standar Profesi Audit Internal sebagai suatu sistem untuk menjamin diterbitkannya laporan audit internal yang berkualitas.
Menurut Hiro Tugiman (2006:70) menyatakan bahwa:
“Laporan audit haruslah objektif, jelas, singkat, konstruktif dan tepat waktu”.
Lebih lanjut kriteria-kriteria tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.                  Objektif
Laporan yang objektif adalah laporan yang faktual, tidak berpihak dan terbebas dari distorsi. Berbagai temuan, kesimpulan dan rekomendasi haruslah dilakukan tanpa ada suatu prasangka.
2.                  Jelas
Laporan yang jelas dan mudah dimengerti. Kejelasan suatu laporan dapat ditingkatkan dengan cara menghindari penggunaan bahasa teknis yang tidak diperlukan dan pemberian berbagai informasi yang cukup mendukung.
3.                  Singkat
Laporan yang diringkas langsung membicarakan pokok permasalahan dan menghindari berbagai perincian yang tidak diperlukan. Laporan tersebut disusun dengan menggunakan kata-kata secara efektif.
4.                  Konstruktif
Laporan yang konstruktif adalah laporan yang berdasarkan isi dan sifatnya akan membantu pihak yang akan diperiksa dan organisasi serta menghasilkan berbagai perbaikan yang dibutuhkan.
5.                  Tepat Waktu
Laporan yang tepat waktu adalah laporan yang penerbitnya tidak memerlukan penundaan dan mempercepat kemungkinan pelaksanaan berbagai tindakan efektif.
Dari pengertian diatas menurut beberapa ahli, penulis mengambil kesimpulan bahwa Laporan audit yang berkualitas sebaiknya akurat, objektif, jelas, singkat, konstruktif, lengkap, dan tepat pada waktunya

pentingnya objektivitas dan independensi terhadap laporan audit


Pada masa globalisasi seperti sekarang ini, pemerintah dan pihak-pihak swasta sedang giat melaksanakan pembangunan terutama dalam bidang ekonomi. Sehingga mendorong timbulnya perusahaan untuk berkembang lebih pesat. Pembangunan dalam bidang ekonomi sangat penting bagi peningkatan taraf hidup masyarakat, hal ini seiring dengan tujuan pembangunan yang tertuang dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia yaitu menciptakan masyarkat yang adil dan makmur. Dalam keadaan persaingan bidang ekonomi ini tidak sedikit perusahaan mengalami penurunan dalam kemampuan usahanya dan bahkan tidak menutup kemungkinan perusahaan mengalami kebangkrutan karena kalah dalam persaingan dunia bisnis.(Noviana:2008)
Untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dalam masa yang akan datang, ilmu dan teknologi akan sangat membantu bagi pengusaha dalam mempertahankan perusahaannya, ditunjang dengan tata kelola perusahaan yang baik. Target perusahaan dapat juga dicapai dengan didukung manajemen yang baik. Selain itu juga diperlukan pengawasan yang dilakukan oleh internal audit yang bersikap objektiv dan independen supaya laporan audit yang dihasilkan pada perusahaan dapat mencapai target.(Noviana:2008)
Internal Audit adalah suatu unit organisasi kantor perusahaan yang diberi peran untuk menjalankan fungsi penyelenggaraan salah satu fungsi corporate support, yang dipimpin dan dikendalikan oleh Head of Internal Audit. Tugas Internal Audit adalah penentuan strategi, kebijakan, program dan pelaksanaan internal audit serta perumusan rekomendasi kepada auditee, serta penentuan kebijakan, program dan pelaksanaan monitoring tindak lanjut atas hasil audit.(Telkom:2010)
   Pengelolaan Unit IA PT. TELKOM senantiasa mengacu  kepada Standar dan ketentuan yang berlaku secara Internasional, oleh karena itu sebagai acuan utama dilakukannya Penilaian Berkala atas Kualitas Internal adalah sesuai dengan International Standard for the Professional Practice of Internal Auditing Attribute Standard 1310 – Quality Program Assessment dan Attribute Standard 1311 - Internal Assessment yang mengamanatkan untuk dilakukannya Penilaian Berkala atas Kualitas Internal setiap 1 (satu) tahun sekali. Tujuan dilakukannya Penilaian Berkala atas Kualitas Internal ini, pertama untuk mengetahui secara real tentang pengelolaan Unit Internal Audit pada periode 1 Januari 2009 sampai dengan 31 Desember 2009, sehingga diperoleh gambaran Kualitas Pengelolaan Unit IA dan tingkat kepatuhannya (Compliances) terhadap Standar Internasional, Kode Etik, Charter, Prosedur dan Kebijakan lainnya yang telah disusun oleh Unit IA. Dengan dilakukannya Penilaian Berkala atas Kualitas Internal ini, merupakan proses Continues Improvement pengelolaan Unit IA.(Telkom:2010)
Dalam hal ini penulis mendapatkan suatu fenomena dalam unit internal audit PT. Telekomunikasi Indonesia,Tbk. Yaitu  Tidak ada penambahan jumlah personil yang memiliki sertifikasi nasional (QIA) sejak tahun 2007.Sejak posisi 31 Desember 2008, Internal Audit sampai posisi 31 Desember 2009 belum mempunyai personil dengan kualifikasi internasional (Certified Internal Auditor/CIA) dan Certified Information System Audit(CISA). Agar diintensifkan program sertfifikasi. Selain itu, Training Profesional (CISA, CIA) memerlukan konsentrasi yang baik sehingga disarankan untuk mengambil personil dengan mempertimbangkan usia, waktu preparation yang memadai, bebas penugasan rutin, dan sistem kaderisasi Unit IA.(Telkom:2010)
Selain itu dalam Unit Internal audit PT Telekomunikasi Indonesia saat ini juga sedang melaksanakan program quality assesment (QA) yang dilaksanakan oleh Tim Quality Assesment Internal guna menilai efektivitas Unit Internal Audit dalam memenuhi fungsinya sebagai Assurance dan Consulting, menilai tingkat kesesuaian antara kegiatan internal audit dengan Standar Profesi Internal Auditing dan standar/ketentuan lainnya yang berlaku, mengidentifikasikan kelemahan dan peluang perbaikan dalam rangka meningkatkan performansi Unit Internal Audit kedepan khususnya pada proses dan pelaporan audit. Selain itu dalam profesionalisme staff auditor juga diperlukan sikap objektivitas dan independensi oleh setiap auditor internal. Berikut ini merupakan data laporan periodic Internal Quality Assessment Unit Internal Audit 2010 yang di dapat dari hasil survey yang dilakukan oleh unit internal audit PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk dengan data responden kuisioner eksternal (Customer Audit) 1634 responden dari total 3492 populasi survey pada posisi struktural dengan Band Posisi 1 sampai dengan IV, yang dilakukan untuk meningkatkan performansi PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk :
 Gambar 1.1
Laporan Periodic Internal Quality Assesment Unit Internal Audit
Tabel 1.1
Laporan Periodic Internal Quality Assesment Unit Internal Audit

Good
Fair
Poor
Excellent
Relasi Bagi Managemen
40,50%
6,3%
1,6%
51,6%
Profesionalisme Staff Auditor
67,3%
19,6%
1,4%
11,7%
Lingkup Audit
72,4%
9,5%
0,6%
17,6%
Proses Audit & Pelaporan
71,8%
14%
0,5%
13,7%
Managemen Internal Audit
52,5%
16,9%
2,6%
27,9%
Nilai Tambah IA bagi Managemen
69,6%
9%
0,6%
20,9%
Sumber : PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk
            Grafik diatas menggambarkan bahwa, nilai tertinggi untuk kriteria:
1.      Excellent” adalah : “Relasi dengan Manajemen” yaitu 51,6%
2.      Good” adalah                    : “Lingkup Audit” yaitu 72,4%
3.      Fair” adalah          : “Profesionalisme staff auditor yaitu 19,6%, dan
4.      Poor” adalah         : “Manajemen Internal Audit yaitu 2,6%.
Sedangkan aspek “Proses audit dan pelaporan” dan “Nilai Tambah IA Bagi Managemen” saat ini belum mencapai kriteria “excellent” nilai tertingginya baru pada kriteria “Good” yaitu sebesar 71,48% untuk “Proses Audit & Pelaporan” dan 69,6% untuk “Nilai Tambah IA Bagi Manajemen”.(Telkom:2010)
   Dalam grafik atau tabel di atas yang berasal dari PT Telekomunikasi Indonesia, penulis mendapatkan fenomena yang terdapat dalam perusahaan yaitu Proses Audit dan Pelaporan pada Unit Internal Audit belum mencapai “excellent”, nilai tertingginya baru pada kriteria “good” yaitu sebesar 71,48% untuk “Proses Audit dan Pelaporan”. Dalam hal ini Unit Internal Audit PT Telekomunikasi di tuntut untuk memperbaiki proses audit dan pelaporan audit itu sendiri, sehingga dapat mencapai target perusahaan, yaitu “excellent”. Dalam hal ini penulis mencoba meneliti, faktor-faktor apa saja yang diperlukan untuk meningkatkan laporan audit sehingga dapat mencapai target perusahaan.
   Selain itu dalam grafik atau tabel di atas yang berasal dari PT Telekomunikasi Indonesia, penulis mendapatkan fenomena yang terdapat dalam perusahaan selain tentang pelaporan audit, yaitu Profesionalisme staff auditor pada Unit Internal Audit belum juga mencapai “excellent”, nilai tertingginya baru pada kriteria “fair” yaitu sebesar 19,6% untuk “Profesionalisme staff auditor”. Dalam hal ini Unit Internal Audit PT Telekomunikasi di tuntut untuk memperbaiki profesionalisme auditor yang termasuk di dalamnya adalah objektivitas dan independensi oleh setiap auditor. Sehingga profesionalisme Auditor PT Telekomunikasi dapat mencapai target perusahaan, yaitu “excellent”. Dalam hal ini penulis mencoba meneliti, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi profesionalisme audit yang termasuk di dalamnya sifat objektivitas dan independensi sehingga dapat mencapai target perusahaan yang diharapkan apabila auditor bekerja secara profesional.
Berikut ini juga merupakan data laporan periodic Internal Quality Assessment Unit Internal Audit 2010 yang di dapat dari hasil survey yang dilakukan oleh unit internal audit PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk dengan data responden kuisioner internal (Staff Audit) 110 responden dari total 137 populasi seluruh personil di Unit Internal Audit PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk yang dilakukan untuk meningkatkan performansi PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk :

Tabel 1.2
Laporan Periodic Internal Quality Assesment Unit Internal Audit

Good
Fair
Poor
Excellent
Strategic Direction of IA
40,90%
1,9%
40,9%
56,7%
Organization & people
58,6%
15%
3,7%
22,8
Implementation IA Funtion
46,9%
7,4%
2%
43,7%
Profesional Development
39,7%
30%
13,7%
16,7%
Tools
38,5%
0,5%
0,5%
60,5%
Sumber : PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk
            Dalam tabel dan grafik d atas, yang diperoleh dari ikhtisar hasil survey yang dilakukan oleh unit internal audit PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk dapat diperoleh fenomena yang dapat diteliti oleh penulis yaitu, Tingkat kepuasan/opini dari responden internal adalah 69,08%. Sehingga secara rata-rata dari kedua responden adalah 70,27%. Padahal unit internal audit menginginkan secara keseluruhan, kemampuan profesional di bidang auditor menapai nilai 90,6% atau di tahapan nilai “exellent”. Sehingga dalam hal ini juga di perlukan penyaluran yaitu mengakomodasi dan memberikan kesempatan yang memadai sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing personil atau seluruh jajaran di Unit IA. Dalam hal ini, sikap seorang auditor yang objektivitas dan independen juga sangat di perlukan perusahaan untuk mendapatkan pelaporan audit yang diharapkan oleh perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan sehingga tidak ada masyarakat yang memandang sinis terhadap integritas perusahaan.(Telkom:2010)
            Selain itu, dalam melaksanakan kegiatan usahanya, Perusahaan dan anak Perusahaan telah menjadi tergugat dalam berbagai kasus hukum yang terkait dengan perselisihan tanah, praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Berdasarkan estimasi manajemen mengenai kemungkinan hasil penyelesaian dari kasus-kasus tersebut, Perusahaan dan anak Perusahaan mencadangkan sebesar Rp 63.795 juta pada tanggal 31 Desember 2010.
            Dalam hal ini, untuk menghadapi kasus-kasus tersebut sangat diperlukan performa auditor yang sangat maksimal, khususnya pada Unit internal Audit. Para auditor di tuntut untuk menjadi seorang yang profesional dan memiliki sifat objektivitas dan independensi yang tinggi. Karena praktik kecurangan sekecil apapun akan merugikan perusahaan.
Penggunaan sampel pada internal auditor PT. Telekomunikasi Indonesia,Tbk yang merupakan salah satu perusahaan BUMN didasarkan pada alasan bahwa internal auditor PT. Telekomunikasi Indonesia,Tbk diharapkan dapat mewakili perusahaan BUMN di Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris terhadap manajemen organisasi berdasarkan kepercayaan, khususnya pada organisasi untuk perusahaan terbuka atau perseroan di Indonesia, di mana personelnya merupakan kelompok profesional (internal auditor).